Kamis, 15 Mei 2008

pengetahuan anemia pada ibu hamil

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu indikator tingkat kesehatan yang penting dan tantangan bagi bangsa Indonesia adalah masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 307/100.00 kelahiran hidup (SDKI, 2003). Tingginya angka tersebut disebabkan antara lain oleh keadan kesehatan dan gizi ibu yang rendah selama masa hamil, terlihat dengan masih banyaknya kejadian anemia gizi besi pada ibu hamil yaitu 63.5 %. Sasaran akhir pelita VII adalah menurunkan AKI menjadi 189 per 100.000 kelahiran hidup dan menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil menjadi sekitar 35 %. Salah satu faktor masih tingginya angka kejadian anemia, kurangnya pengetahuan disini adalah ketidaktahuan akan tanda-tanda, gejala dan dampak yang ditimbulkan oleh anemia akibatnya kalaupun individu tersebut terkena anemia ia tidak merasa dirinya “sakit“ (Gillespie, 1998. Cit Widiyanto, 2001).
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar hemoglobin (Hb) yang berada di bahwa normal. Di Indonesia Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan Zat Besi,sehingga lebih dikenal dengan istilah Anemia Gizi Besi. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bahwa 11 gr/dl selama trimester III.(Depkes RI,1998).
Tubuh mampu mengatur penyerapan zat besi sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan meningkatkan penyerapan pada kondisi kekurangan dan menurunkan penyerapan saat kelebihan zat besi. Kemungkinan lain yang dapat menyebabkan anemia adalah meningkatnya kebutuhan karena kondisi fisiologis, misalnya kehilangan darah karena kecelakaan, pascabedah atau mensturasi, adanya penyakit kronis atau infeksi, misalnya infeksi cacing tambang, malaria, tuberkulose atau TB (dulu dikenal sebagai TBC).(Notoatmodjo,2003)
Penduduk yang miskin salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama anemia kurang besi tampaknya adalah karena konsumsi zat besi yang tidak cukup dan absorsi zat besi yang rendah dari pola makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam. Di fase ini sangat diperlukan zat gizi cukup seperti zat besi, vitamin A, dan kalsium, dan susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya.Selain itu infeksi cacing tambang memperberat keadaan anemia yang diderita pada daerah-daerah tertentu,terutama di daerah pedesaan dan dapat mensosialisasikan masalah anemia guna menurunkan angka kejadian anemia.
Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional, bahkan internasional. Anemia pada ibu hamil mempunyai pengaruh yang besar terhadap kualitas sumber daya manusia (Manuaba, 1998). Anemia yang terjadi selama kehamilan memberikan akibat pada ibu dan janinnya. Bagi ibu, keadaan anemia akan menurunkan daya tahan tubuh ibu, sehingga rentan terhadap infeksi. Selain itu akibat yang terjadi pada persalinan antara lain adalah lemahnya kontraksi rahim, tenaga mengejan yang lemah. Perdarahan post partum akibat otonia uteri, dan tubuh tidak mentoleransi terjadinya kehilangan darah seperti wanita yang sehat. Kehilangan darah hingga satu liter selama persalinan tidak akan membunuh seorang wanita yang sehat, tetapi pada wanita yang jelas anemia kehilangan sekitar 150 ml saja dapat berakibat fatal (Royston, & Amstrong, 1994). Akibat pada janin yang dikandung menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi utero plasenta. Hal ini jelas menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi, sehingga sering terjadi abortus, persalinan prematurus, cacat bawaan, IUFD (Intra Uterin Fetus Death) atau BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). Anemia hamil disebut “Potensial danger to mother and child” (potensial membahayakan ibu dan anak) (Manuaba. 1998).
Ibu hamil yang menderita anemia mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka mempunyai resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalinan, pendarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan (Depkes RI, 1996). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya.

Berdasarkan data SDKI 2002-2003, Angka kematian ibu atau Maternal Mortality Ratio (MMR) di Indonesia untuk periode tahun 1998-2002, adalah sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.AKI sulit dihitung, karena untuk menghitung AKI dibutuhkan sampel yang besar, mengingat kejadian kematian ibu adalah kasus yang jarang. Oleh karena itu kita umumnya digunakan AKI yang telah tersedia untuk keperluan pengembangan..Kematian ibu hamil disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor sosial, faktor budaya dan faktor ekonomi. Kemiskinan masyarakat akan membawa kemiskinan pengetahuan dan informasi. Dan pada kondisi kemiskinan, keluarga khususnya ibu akan mengalami resiko kekurangan gizi, menderita anemia dan berat bayi lahir rendah (BBLR) (Anita Rahman,2003).
Hasil survey anemia di Jawa Tengah pada tahun 1998 sampai pada tahun 1999 diperoleh gambaran bahwa pengetahuan ibu hamil tentang tablet besi dan anemia sebesar 78,1%. Hasil tersesbut termasuk kategori rendah dan pada calon pengantin wanita sebesar 78% juga termasuk kategori rendah tentang tablet besi dan anemia. Pengetahuan tentang penyebab dan penanggulangan anemia yaitu sebesar 39,2% pada ibu hamil dan pada calon pengantin sebesar 39,2% dimana keduanya termasuk dalam kategori pengetahuan rendah dalam pengetahuan tentang penyebab dan penaggulangan anemia. (DepKes, 1999)
Hasil penelitian di rumah sakit pendidikan, di Indonesia menunjukan bahwa anemia meningkatkan angka kematian ibu. Tingkat kematian ibu pada kehamilan dengan anemia kira-kira 7 per 100 persalinan, sedangkan pada ibu yang tidak menderita anemia 1,9 per 1000 persalinan (UNICEF, 1989) Sebagian besar ibu di pedesaan menderita anemia sehingga tingkat kematiannya lebih tinggi dari pada perkotaan (7,6 per 1000 persalinan di pedesaan, dibandingkan dengan 2,5 per 1000 persalinan di perkotaan)
Masalah anemi gizi pada wanita hamil dari tahun 2001 sampai 2003 terjadi penurunan prevalensi, angka prevalensi tersebut masih termasuk dalam kategori tinggi yaitu diatas 40% berdasarkan klasifiikasi WHO/UNICEF/UNU 1996 (Gillespie, 1998 Cit Widiyanto, 2001). Dalam lingkup yang lebih kecil data menunjukan bahwa Anemi Gangguan Besi (AGB) di kabupaten Kulonprogo masih cukup tinggi yaitu 37,10% pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 sebesar 22,49%. Khususnya untuk Puskesmas Kalibawang pada tahun 2002 yaitu 32,48%. (Profil Kesehatan Kota Wates, 2003).
Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 15-30 Desember 2007 dengan cara observasi di Desa Dekso didapatkan hasil bahwa kejadian anemia ibu hamil di Puskesmas Kalibawang Wates Kulonprogo sebanyak 22,49%. Kejadian tersebut juga didukung dari hasil wawancara pada 15 ibu hamil yang datang ke Puskesmas Kalibawang didapatkan hasil bahwa 14 dari ibu hamil tersebut terkena anemia akibat kekurangan gizi. Hal ini diakibatkan karena kurangnya pengetahuan ibu hamil tersebut tentang anemia seperti penyebab anemia, dan akibat dari anemia tersebut. Meskipun petugas Puskesmas Kalibawang sudah melakukan berbagai usaha untuk menurunkan angka kejadian anemia di Puskesmas Kalibawang dan bidan merupakan salah satu pelaksana kegiatan dalam rangka penurunan angka kejadian anemia yaitu dengan melakukan kegiatan yang meliputi penyuluhan dan konseling tentang pentingnya gizi bagi ibu hamil, pencegahan anemia, melakukan deteksi dini ibu hamil/ nifas penderita anemia dengan pemeriksaan Hb, dan pemberian tablet tambah darah
Berbeda dengan ibu hamil yang datang di Puskesmas Nanggulan Kulonprogo dimana dari 15 ibu hamil yang ditemui,didapatkan hasil bahwa 13 responden ibu hamil tidak mengalami anemia dan mempunyai pengetahuan tentang anemia yang baik.
Mengingat begitu seriusnya akibat yang biasa timbul oleh adanya anemia selama kehamilan serta masih tingginya angka prevalensi anemia pada wanita hamil di Puskesmas Kalibawang maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul: “Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Anemia Dengan Status Anemia Dalam Kehamilan di Puskesmas Kalibawang.”

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian dan latar belakang tersebut di atas dan tingginya permasalahan dalam kehamilan akibat anemia, maka penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan: Apakah Ada Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Anemia Dengan Status Anemia Dalam Kehamilan di Puskesmas Kalibawang?

C. Tujuan Penelitian.
1. Tujuan Umum
Diketahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dengan status anemia dalam kehamilan di Puskesmas Kalibawang.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui tingkat pengetahuan ibu hamilan tentang anemia Di Puskesmas Kalibawang Wates Kulonprogo.
b. Diketahui status anemia dalam kehamilan Di Puskesmas Kalibawang Wates Kulonprogo.
c. Diketahui hubungan tingkat pengetahuan ibu kehamilan tentang anemia dengan status anemia dalam kehamilan Di Puskesmas Kalibawang Wates Kulonprogo.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Kalibawang
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan pihak puskesmas dalam menyusun perencanaan dalam penanggulangan dan penurunan anemia pada ibu hamil.
2. Bagi Organisasi Profesi Keperawatan
Dapat menambah pengalaman berharga dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah.
3. Bagi peneliti lain
Diharapkan dapat menjadi sumbangan sumber bacaan ilmiah untuk penelitian berikutnya yang sejenis.

E. Keaslian Penelitian
Peneitian yang berkaitan dengan Anemia ibu hamil telah dilakukan oleh beberapa orang, diantaranya:
1. Arsulfa, 2002, Karakteristik Ibu Hamil Dengan Anemia di RS. Sarjito Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskritif non analitik, data yang diambil secara retrospektif (sekunder) dalam kurun waktu 1 Januari – 31 Desember 2001. Hasil disajikan dalam bentuk tabel frekuensi sesuai dengan karakteristik yang akan diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang gambaran karakteristik ibu hamil dengan kejadian anemia, dimana karakteristik ibu hamil itu meliputi umur, paritas jarak kehamilan, umur kehamilan, tingkat pendidikan, dan frekuensi ANC. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu ingin mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dengan status anemia dalam kehamilan, subyek penelitian yaitu ibu hamil trimester II dan III yang mengalami anemia. Variabel, cara pengambilan data, waktu penelitian serta cara pengelolahan data.
2. Nisan Mauyah, Studi Status Gizi dan Paritas Dengan Tingkat Anemia pada ibu hamil di puskesmas Tegalrejo Yogyakarta pada tahun 2001, jenis penelitian deskriptif analitik, dilakukan di puskesmas Tegalrejo, hasil disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan frekuensi variabel yang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran status gizi dan paritas dengan tingkat anemia pada ibu hamil, dan mengetahui manfaat gizi bagi ibu hamil.
Perbedaan dengan penelitian ini yaitu : Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dengan status anemia dengan kreteria ibu hamil berumur 18-35 tahun dipoli KIA Puskesmas Kalibawang Wates Kulonprogo Yogyakarta. Variabel bebas yaitu : Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia. Penelitian ini adalah kuantitatif non analitik dengan rancangan Cross Sectional.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Tinjauan Kepustakaan
1. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2003). Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mengadopsi perilaku baru, dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
a. Awarreness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu stimulus atau objek.
b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut, disini obyek sudah mulai timbul.
c. Evaluation (menimbang-nimbang), terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial, dimana subjek mulai mencoba perilaku baru.
e. Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
9Sayogo, (1999), menjelaskan bahwa dari tahap ketidaksadaran pasien terhadap pasien (informasi), kemudian sadar terhadap objek pesan, terbentuklah pengetahuan sehingga memunculkan penilaian-penilaian suka atau tidak suka sehingga nantinya terbentuk keyakinan terhadap pesan tadi sehingga melahirkan perilaku tertentu.
Pengetahuan dalam kamus besar bahasa Indonesia (1999), diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui, atau segala sesuatu yang berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Pengetahuan merupakan salah satu tingkat yang paling rendah dalam tingkatan ranah kognitif. Kategori pengetahuan meliputi kemampuan untuk mengatakan kembali dari ingatan hal-hal khusus dan umum, metode dan proses atau mengingatkan suatu pola, susunan, gejala atau peristiwa.
Menurut Ancok (1992), bahwa hubungan antara pengetahuan, sikap, niat dan perilaku akan mempengaruhi keikutsertaan seseorang dalam suatu aktifitas tertentu. Adanya pengetahuan terhadap manfaat sesuatu hal, akan menyebabkan orang mempunyai sikap yang positif terhadap hal tersebut. Pengetahuan berisikan segi positif dan negatif, bila sesuatu kegiatan dianggap lebih banyak segi positifnya, maka kemungkinan besar seseorang akan mengikuti kegiatan tersebut, Menurut Tip, (1996) menyatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia adalah: kurangnya pengetahuan ibu tentang anemia, pemeliharaan kesehatan, resistensi tablet besi dan komunikasi yang kurang tentang pentingnya suplemen tablet besi.
Pengetahuan seseorang dapat diperoleh dengan berbagai usaha, baik sengaja maupun secara kebetulan. Usaha yang dilakukan dengan sengaja meliputi berbagai metode dan konsep baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman. Pengetahuan seseorang dapat diperoleh melalui pendidikan, penyuluan, maupun dari berbagai sumber seperti media cetak seperti buku, majalah, koran, poster. Dari media elekteronik radio, televisi, film dan lainya, berperan penting dalam memperoleh informasi baik tentang kesehatan maupun informasi lainya.
Pengetahuan ibu hamil tentang kesehatan khususnya anemia, akan berpengaruh terhadap sikap ibu hamil tentang pelaksanaan program pencegahan anemia. Sikap tersebut dapat berupa tanggapan setuju atau tidak setuju terhadap penerimaan tablet besi, berhubungan pula terhadap tindakan ibu dalam upaya pencegahan anemia. Salah satu faktor masih tingginya angka kejadian anemia adalah kurangnya pengetahuan tentang anemia, kurangnya pengetahuan disini adalah ketidaktahuan akan tanda-tanda dan gejala dan dampak yang timbul oleh anemia, akibatnya kalaupun individu tersebut terkena anemia ia tidak merasa “sakit“ (Tingkat pengetahuan menurut Nursalam, 2003).
2. Anemia Dalam Kehamilan
a. Pengertian anemia
Menurut WHO tahun 1996 yang dikutip oleh Gillespie, (1998 Cit Widianto, 2001) anemia defiensi besi adalah tingkatan kekurangan besi yang paling berat dan terjadi bila konsentrasi hemoglobin jauh dibawah ambang batas yang ditentukan secara statistik pada 2 SD (standar deviasi) dibawah median dari populasi sehat yang sama umur, jenis kelamin dan tingkat kehamilan. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar kurang dari 10,5 gr% pada trimester II sedangkan untuk ibu yang tidak hamil kadar hemoglobinnya 12 gr%. Perbedaan nilai batas tersebut dengan ibu yang tidak hamil terjadi karena hemodilusi terutama pada trimester II (Prawiroharjo, 2001). Anemia adalah istilah yang digunakan pada keadaan penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah sampai kadar (wanita hamil) dibawah 11 gr%. Hemoglobin merupakan zat yang berwarna merah yang terdapat dalam bentuk larutan dalam sel darah merah, yang fungsi utamnya mengangkut oksigen ke semua bagian tubuh. Zat asam folat, vitamin, unsur mineral lainya, diperlukan untuk pembentukan hemoglobin yang dibentuk dalam sumsum tulang, ubi yang merupakan sumber penting dari asam folat, sementara sebagian besar gandum, daging, dan sayur-sayuran mengandung besi. (Royston & Armstrong, 1994).
Pengertian anemi pada dasarnya dapat dibedakan menjadi anemia, anemia gizi dan anemia defisiensi besi.
1) Anemia adalah: Keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal yang diberikan pada individu (Soenarto, 1977). Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) didalam darah lebih rendah dari pada nilai normal untuk kelompok orang yang bersangkutan (Husaini, 1989).
2) Anemia Gizi Besi adalah: Keadaan kadar hemoglobin, hematkrit dan jumlah eritrosit lebih rendah dari nilai normal sebagi akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa makanan yang dengan mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut (Soenarto, 1997).
3) Anemia Defisiensi Besi adalah Anemia yang terjadi karena kebutuhan besi untuk erithropiesis tidak cukup, biasanya ditandai dengan eritrosit yang mikrositik, kadar besi serum rendah, satu rasi trasferin mengurangi dan tidak adanya zat besi pada sumsum tulang dan tempat cadangan zat besi yang lain (Harmaji dkk, 1977).
Pemeriksan dan pengawasan Hemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat Sahli. Berkurangnya kadar Hb pada wanita hamil menurut WHO (Damayer, 1995).
1) Normal : > 11 gr%
2) Anemia ringan : 10 – 11 gr%
3) Anemia sedang : 7- 10 gr%
4) Anemia berat : < 7 gr%
b. Etiologi
Penyabab anemia secara umum, antara lain: (1) Kurang zat besi dan vitamin B12 dalam diet. Seorang yang berdiet dapat terkena anemia karena dalam berdiet berpantang makanan seperti telur, daging, hati. Kenyataannya, makanan tersebut merupakan sumber zat besi yang mudah diserap oleh tubuh. Demikian juga dengan para vegetarian cenderung menderita anemi, apalagi bila disertai kebiasaan tidak sarapan atau frekuensi makan tidak teratur serta kualitas makan yang tidak seimbang. (2) Penyakit infeksi (cacingan, malaria tubercolusis), (3) Penyakit keganasan. (4) Kehilangan darah (mimisan, menstruasi banyak, wasir berdarah, perdarahan tukak lambung, kecelakaan. (Kehamilan, yaitu terjadinya hemodilusi yang puncaknya pada umur kehamilan 32 minggu). (5) Gangguan produksi hemoglobin karena faktor keturunan, misalnya talasemia (Karyadi, 2003).
Pada keadaan normal, tidak semua zat besi dimakan dan diserap setiap hari dari usus kecil diperlukan segera. Kelebihan itu biasanya disimpan dalam sumsum tulang sehingga dalam masa stress fisik dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan pembentukan hemoglobin guna memenuhi kebutuhan meningkat. Salah satu periode stress fisik adalah kehamilan. Selama kehamilan pertumbuhan janin dan uterus, serta perubahan yang lain yang terjadi pada ibu yang menyebabkan peningkatan kebutuhan zat makan yang banyak, khususnya zat besi dan folat. Karena banyak wanita memulai kehamilannya dengan cadangan makanan yang tipis, kebutuhan tambahan mereka lebih tinggi dari biasanya, jika karena kekurangan gizi, kebutuhan itu tidak terpenuhi, kecepatan pembentukan hemoglobin menurun dan konsentrasinya dalam peredaran darah juga menurun. (Royston & Armstrong, 1994)
Penyebab terbanyak anemia dalam kehamilan adalah defisiensi zat besi dan perdarahan akut. Ibu hamil cenderung mengalami anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya karena pada masa tersebut janin menimbun cadangan zat besi untuk diri sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. Pada awal kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin yang masih lambat. Ketika umur kehamilan 4 bulan keatas, volume darah dalam tubuh ibu akan meningkat 35%, ini karena ekuivalen dengan 450 mg zat zat besi untuk memprokdusi sel-sel darah merah. Sel darah merah harus mengangkut oksigen lebih banyak untuk janin. Sedangkan saat melahirkan memerlukan tambahan zat besi 300-350 mg akibat kehilangan darah. Mulai dari kehamilan hingga persalinan, ibu hamil memerlukan zat besi sekitar 800 mg besi atau 2-3 mg besi per hari atau dua kali lipat kebutuhan tidak hamil (Prawiroharjo, 2001).
Menurut Aziz (1996) Anemia pada umumnya disebabkan oleh:
1) Kehilangan darah dan turunnya jumlah sel darah merah akibat infeksi, seperti malaria, cacing tambang dan lain-lain.
2) Cacat bawaan dari sel darah merah.
3) Produksi sel darah merah akibat kerusakan hemopoesis pada penyakit febrile dan penyakit kronis seperti tuberkulosis.
4) Perdarahan mikroskopi dan perdarahan usus.
5) Defisiensi besi.
c. Patofisiologi
Dalam kehamilan terjadi peningkatan volume plasma darah sehingga terjadi hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah merah lebih sedikit dibandingkan dengan peningkatan volume plasma, sehingga terjadi pengenceran darah (Hemodelusi). Pertambahan volume darah tersebut berbanding sebagai berikut: plasma 30 %, sel darah 18 % dan hemoglobin 19 % (Prawiroharjo, 1999). Keadanan tersebut disebut sebagai anemia fisiologis atau pseudoanemia.
Pengenceran darah yang terjadi pada wanita hamil dianggap sebagai penyesuaian fisiologis bermanfaat karena:
1) Hemodilusi meringankan beban jantung yang harus berkerja lebih berat dalam kehamilan. Hedremia menyebabkan cardiac out meningkat dan kerja jantung diperingan bila viskositas darah menjadi rendah, resistensi perifer berkurang sehingga tekanan darah tidak naik.
2) Mengurangi hilangnya zat besi pada waktu terjadinya kehilangan darah paska persalinan. Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32–36 minggu.
d. Klasifikasi
Tipe–tipe yang frekuensinya paling banyak dijumpai dalam kehamilan meliputi anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, anemia refraktori, anemia sel sabit dan akibat infeksi (Prawiroharjo, 1999). Berdasarkan etiologi membagi anemia dalam kehamilan menjadi:
1) Anemia defisiensi besi: 62,3 %
2) Anemia megaloblastik: 29,05 %
3) Anemia hipoplastik : 8,0 %
4) Anemia hemolitik : 0,7 %
Menurut Pritcard (1991) berdasarkan etiologi atau penyebabnya, anemia yang paling sering terjadi pada wanita hamil dibedakan menjadi:
1) Yang didapat (acquired), terdiri dari:
a) Anemia defisiensi besi
b) Anemia akibat perdarahan akut.
c) Anemia akibat inflamasi atau keganasan
d) Anemia megaloblastik
e) Anemia hemolitik
f) Anemia aplastik dan hopoplastik.
2) Herdiret, terdiri dari:
a) Talasemia
b) Hemoglobinopati dan
c) Anemia hemolitik herediter tanpa hemoglobinopati
e. Tanda dan Gejala
Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit kepala, mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun, pandangan berkunang-kunang terutama bila bangkit dari duduk, selain itu wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir, kuku penderita tampak pucat. Bila anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak nafas, lemah jantung (Royston & Armstrong, 1994).
f. Dampak Dalam Kehamilan
1) Bahaya pada janin:
Sekalipun tampak janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Akibat anemia dapat terjadi gangguan- gangguan dalam bentuk:
a) abortus.
b) terjadinya kematian intra uterin.
c) persalinan prematurritas yang tinggi.
d) bblr (bayi berat lahir rendah).
e) kelahiran dengan anemia.
f) dapat terjadi cacat bawaan.
g) bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal.
h) intelligensia rendah.
Anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh kurang baik bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan, nifas dan masa selanjutnya (Manuaba, 1998).
2) Bahaya dalam kehamilan.
a) Abortus (Keluarnya hasil konsepsi sebelum kehamilan 28 minggu dengan berat badan janin sampai 1000 minggu).
b) Persalinan prematuritas (Keluarnya hasil konsepsi pada usia kehamilan 28 minggu sampai 36 minggu).
c) Hambatan tumbuh kembang janin dalam tubuh.
d) Mudah terjadi infeksi.
e) Anemia dekompensasi kordis (Hb < 6 gr %).
f) Molafidatidosa.
g) Heperemrsis Gravidarum.
h) Perdarahan antepartum.
i) KPD (ketuban pecah dini).
3) Bahaya dalam persalinan.
a) Gangguan his (kekuatan mengejan).
b) Kala I dapat berlangsung lam, dan terjadi partus terlantar.
c) Kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan.
d) Kala III ( kala uri ) dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan postpartum karena atonia uteri.
e) Kala IV dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri.
4) Bahaya pada kala nifas.
a) Terjadinya sub-involusia uteri menimbulkan perdarahan post partum.
b) Memudahkan infeksi puerperium.
c) Pengeluaran ASI yang kurang.
d) Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan.
e) Anemia pada kala nifas.
f) Mudah terjadi infeksi mamae.
g. Metabolisme dan fungsi zat besi dalam tubuh.
Besi termasuk mikromineral yang paling banyak dalam tubuh manusia dan hewan. Besi adalah unsur pokok hemoglobin, myoglobin, beberapa enzim dan merupakan gizi asensil untuk manusia. Orang dewasa mengandung besi 2,5 sampai 4 %, sebanyak 60 % terdapat dalam bentuk hemoglobin, 4 % dalam bentuk myoglobin, 15 % sampai 20 % disimpan, sisanya dalam berbagai bentuk senyawa enzim, katalase, protein transferin, oksigen triptopan. Besi dalam tubuh disimpan dalam bentuk ferrintin dan Hemosiderin terutama dalam hati, limfa dan sumsum tulang. Fungsi utama besi adalah untuk menstransport oksigen dalam bentuk hemoglobin darah dari paru-paru keseluruh jaringan tubuh (Linder, 1992).
Sel-sel darah merah berumur 120 hari, setelah umur 120 hari sel-sel darah merah mati, dan diganti dengan yang baru (turnover). Setiap hari turnover zat besi berjumlah 35 mg, tetapi tidak semuanya harus didapatkan dari makanan. Sebagaian besar yaitu 34 mg dapat dari penghancuran sel-sel darah merah yang tua yang kemudian disaring oleh tubuh untuk dapat dipergunakan lagi oleh sumsum tulang belakang untuk pembentukan sel-sel darah merah baru. Hanya 1 mg zat besi dari penghancuran sel-sel darah merah tua yang dikeluarkan oleh tubuh melalui kulit, saluran pencernaan air kencing (iron basal losse).
Senyawa zat besi dalam tubuh dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
1) Berfungsi untuk keperluan metabolik.
2) Berfungsi simpanan atau reserve.
Yang termasuk bagian pertama adalah hemoglobin, myoglobin, cytocrome. Senyawa lain berfungsi sebagai transport, menyimpan dan menggerakkan oksigen. Jumlah senyawa ini antara 25-55 mg/kg berat badan dan 80 % diantaranya berbentuk hemoglobin.
Yang termasuk reserver adalah fertin dan hemosiderin berukuran 5-35 mg/kg berat badan. Senyawa ini berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan homeostastis apabila komsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, maka zat besi dan feritin dan hemosiderin dimobilisasi untuk mempertahankan hemoglobin yang normal.
Jumlah zat besi yang dibutuhkan pada waktu hamil jauh lebih besar dari pada tidak hamil. Pada trimester I kehamilan, kebutuhan zat besi lebih rendah dari pada sebelum hamil, karena tidak mensturasi dan jumlah zat besi yang ditransfer ke janin masih rendah. Pada waktu menginjak trimester II terdapat ekspansi maternal ret cell mass sampai akhir semester III. Pertumbuhan massa sel darah merah ini mencapai 35 % yang ekuivalen dengan pertambahan kebutuhan zat besi sebanyak 450 mg. Kenaikan red cell mass berkaitan erat dengan kenaikan kebutuhan komsumsi oksigen oleh janin. Keadaan ini diimbangi dengan menurunnya kadar Hb yaitu sebanyak 1 Gr % (pada waktu tidak hamil kadar Hb 12 %, pada wanita hamil 11 gr %).
Kebutuhan zat besi menurut trimester adalah sebagai berikut :
1) Pada Trimester I : Zat besi yang dibutuhkan ± 1 mg/hari, kebutuhan basal 0,8 mg/hari ditambahkan dengan kebutuhan janin dari sel darah merah 30-40 mg.
2) Pada Trimester II : zat besi yang dibutuhkan ± 5 mg / hari, kebutuhan basal 0,9 mg/hari ditambah kebutuhan sel darah merah 300 mg dan janin 110 mg.
3) Pada Trimester III : Zat besi yang dibutuhkan ± 5 mg/hari, kebutuhan basal 0,8 mg/hari ditambah kebutuhan sel darah merah 150 mg dan janin 223 mg.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka kebutuhan zat besi yang pada trimester II dan III akan jauh lebih besar dan jumlah zat besi yang mengandung zat besi yang tinggi biovailabilitasnay. Apabila wanita tidak mempunyai cadangan zat besi yang cukup banyak ( 500 mg ), dan tidak mendapat suplemen preparat besi, sedangkan janin bertambah terus dengan pesat maka janin akan berperan sebagai parasit, ibu akan menderita karenanya. Umumnya janin dinyatakan normal kecuali pada keadaan yang sangat berat yaitu kadar Hb ibu sangat rendah, maka zat besi yang kurang akan berpengaruh pula terhadap janin.
h. Dosis dan cara pemberian Fe
1) Dosis pencegahan : Diberikan pada kelompok sasaran tanpa pemeriksaan kadar Hb. Ibu hamil sampai masa nifas, sehari tablet (60 mg elemen iron dan 0,25 asamfolat) berturut-turut selama minimal 90 hari masa kehamilan sampai 42 hari setelah melahirkan. Mulai pemberian pada waktu pertama kali ibu hamil memeriksakan kehamilannya.
2) Dosis pengobatan : Diberikan pada sasaran yang anemia (kadar Hb < dari batasan ambang). Ibu hamil pada masa nifas, bila kadar Hb < 11 gr%, pemberian 3 tablet sehari selama 90 hari kehamilannya sampai 42 hari setelah melakukan (Depkes, pedoman pemberian besi bagi petugas).
Standar pelayanan yang dapat dilakukan oleh bidan dalam pengolahan anemia ( Depkes, 2001) adalah :
1) Memeriksa kadar Hb semua ibu hamil pada kunjungan pertama, dan pada minggu ke-28. Hb dibawa 11 gr% pada kehamilan termasuk anemia, di bawah 8 gr% adalah anemia berat. Bila alat pemeriksaan tidak tersedia, periksa kelompok mata dan perkirakan ada tidaknya anemia.
2) Beri tablet besi pada ibu hamil sedikitnya 1 talet selama 90 hari berturut-turut. Bila Hb kurang dari 11 gr% teruskan pemberian tablet besi.
3) Beri penyuluhan gizi pada kunjungan antenatal, tentang perlunya tablet besi zat besi, makanan yang mengandung zat besidan kaya vitamin C, serta menghindari teh/ kopi atau susu dalam satu jam sebelum/ sesudah makan (teh/ kopi atau susu menggangu penyerapan zat besi). Beri contoh makan setempat yang banyak mengandung zat besi.
4) Jika prevalensi malaria tinggi, selalu ingatkan ibu hamil untuk berhati-hati agar tidak tertular penyakit malaria. Beri tablet klorokuin 10 mg/kg BB peroral, sehari satu kali selama 2 hari. Kemudian anjurkan dengan 5 mg/kg BB pada hari ke 3.( klorokuin aman dalam 3 trimester kehamilan).
5) Jika ditemukan, berikan 2-3 kali 1 tablet zat besi/hari.
6) Rujuk ibu hamil dengan anemia untuk memeriksakan penyakit cacing/ parasit atau penyakit lainnya, sekaligus pengobatannya.
7) Rujuk ibu dengan anemia berat dan rencanakan untuk bersalin di rumah sakit.
8) Sarankan ibu hamil dengan anemia berat untuk minum tablet besi sampai 4-6 bulan setelah persalinan.
3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Anemia
a. Umur ibu :
Kehamilan resiko tinggi dapat timbul pada keadaan empat terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu dekat). Pada kelompok umur menurut Departemen Kesehatan RI (2001). Kelompok umur beresiko yaitu < 20 tahun – tahun – 35 tahun. Jarak antara persalinan yang terlalu dekat, jumlah anak yang lebih dari tiga orang dan umur ibu waktu melahirkan kurang dari 20 tahun atau lebih dari 30-35 tahun, telah terbukti merupakan penyebab tinggi morbiditas bahkan moralitas ibu maupun anak. Yang dapat memperberat terjadinya anemia adalah seringkali wanita memasuki masa kehamilan dengan kondisi dimana cadangan besi dalam tubuhnya kurang dan terbatas. Hal ini dapat diperberat bila hamil pada usia < 20 tahun karena pada usia muda tersebut membutuhkan zat besi lebih banyak selain untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri juga janin yang dikandungnya. Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe dan akhirnya menimbulkan anemia pada ibu hamil berikutnya ( Manuaba, 1998 ). Kehamilan usia lebih dari 35 tahun akan mengalami problem kesehatan seperti hipertensi, diabetes militus, anemia dan penyakit-penyakit kronis lainnya (Hartanto, 1996).
b. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dalam arti formal sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan/ materi pendidikan oleh pendidikan kepada sasaran pendidik (anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku. Karena pendidik itu adalah suatu proses maka dengan sendirinya mempunyai masukan dan keluaran. Masukan proses pendidikan adalah sasaran atau anak didik yang mempunyai karakteristik, sedangkan keluaran proses pendidik adalah tenaga atau lulusan yang mempunyai klasifikasi, tertentu sesuai dengan tujuan pendidik intitisi yang bersangkutan (Notoatmojo, 1993). Pendidik yang rendah berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimiliki ibu. Pendidik merupakan hal yang penting yang dapat mempengaruhi pola pikir seseorang termasuk dalam tindakan seseorang dalam mengambil keputusan untuk memilih bahan makan yang dikomsumsi, misalnya memilih dan mengolah makan yang banyak mengandung zat besi (Notoatmodjo, 19971).
Menurut Royston (1994), pendidik rendah merupakan salah satu faktor yang bias meningkatkan angka kejadian anemia pada ibu hamil. Didalam pendidikan terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih baik pada diri individu. Agustina (2000) menyatakan bahwa faktor-faktor ysng menyebabkan anemia adalah adanya penyakit infeksi dan asupan makanan yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh yang dipengaruhi oleh kurngnya pengetahuan dan pendidikan tentang kesehatan mengakibatkan ibu merasa tidak perlu untuk meminta pertolongan medis atau mendatangi pusat-pusat pelayanan kesehatan yang tersedia.
Menurut Notoatmojo (1993) terbentuknya sesuatu perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif, dalam arti subyek tahu terlebih dahulu terhadap sthimulus yang berupa materi atau obyek diluarnya yang nantinya menimbulkan pengetahuan baru pada subyejk tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap.
Pengetahuan sangat berhubungan dengan pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat diperlukan untuk mengembangkan diri, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi, sedangkan semangkin meningkat produktifitas, semakin meningkat kesejahteraan keluarga (Agustina, 2000 cit Retna Purwati, 2001).
c. Ekonomi
Bila dikaitkan dengan kenyataan sosial ekonomi yang terendah maka ibu hamil sangat rentan terhadap permasalahan yang berkaitan dengan nutrisi. Banyak permasalahan yang dipersulit oleh status sosial ekonimi rendah, acap terjadi pada wanita berbagai usia dan latar belakang budaya (Bowering etal, 1980 cit Nisan Mauya, 2001).
Menurut Gillespie, 1998 cit Widiyanto, ) penyebab terjadinya anemia yaitu (1) kurangnya kemampuan keluarga memperoleh makanan yang cukup kuanitas maupun kualitas untuk anggotannya sepanjang tahun, (2) Praktek pelaksanaan pemeliharaan ibu dan anak memadai, (3) kerangnya kemampuan keluarga dalam menjangkau pelayanan dan lingkungan kesehatan yang baik. Semua itu diperburuk lagi bila ditambah adanya faktor kemiskinan, rendahnya setatus wanita, adanya buta huruf dan lingkungan yang buruk.
Penyebab tidak langsungnya kejadian anemia adalah kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah, sehingga mengakibatkan ketersedian pangan ditingkat keluarga tidak mencukupi, yang juga mempengaruhi pola komsumsi keluarga yang kurang baik. (Kartini, 2003). Tingkat pendapatan keluarga berkaitan dengan dengan tingkat kemiskinan. Diperkirakan 1.3 milyar penduduk dunia dalam kemiskinan, lebih dari 70% adalah wanita (WHO, 2000). Batas kemiskinan tahun 1996 di Indonesia untuk daerah kota Rp. 38.426/ kapita/ bulan dan daerah desa Rp 27,313/ kapita/ bulan. Di daerah Istimewa Jogjakarta batas kemiskinan daerah kota Rp. 35.848/ kapita/ bulan dan Rp 27.836/ bulan daerah desa (Depkes, 1998). Tingkat pendapatan keluarga dapat sebagai pertimbangan saat ibu hamil akan memeriksakan kehamilannya apakah di puskesmas, di bidan peraktek atau di praktek dokter spesialis kandungan. Selain itu juga mempertimbangkan nilai ekonomis terhadap transportasi dan biaya obat saat ini puskesmas, pustu masih merupakan alternatif tempat berobat yang murah dan terjangkau.
d. Paritas
Kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak hilangnya zat besi dan mejadi makin anemis. Jika persedian cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya (Manuba, 1998).
Pada kehamilan relatif terjadi anemia karenah darah ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai 40%. Bertambahnya darah dalam kehamialn sudah dimulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 34 minggu. Jumlah peningkatan sel darah 18% sampai 30% dan hemoglobin sekitar 19%. Bila Hemoglobin ibu sebelum hamil sekitar 11 gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis. Dan Hb ibu akan menjadi 9,5 sampai 10 gr%. Setelah persalinan, demgam lahirnya plasenta dan pendarahan, ibu hamil kehilangan zat besi sekitar 900 mg. Saat laktasi, ibu masih memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia, laktasi tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik. Kehamilan yang berulang dalam waktu yang sangat menyebabkan cadangan zat besi ibu belum pulih dan terkuras untuk keperluan janin yang dikandung berikutnya. (Kartini, 2003). Ibu hamil dengan frekuensi kelahiran banyak akan lebih beresiko daripada ibu hamil dengan frekuensi kelahiran banyaknya lebih sedikit, seseorang akan beresiko apabila melahirkan anak lebih dari 3 (multipara) dan tidak kecil resikonya jika frekuensi melahirkannya 1-3 (primipara) (Royston, 1994).
Menurut Wikjisastro (1999), faktor determinan mempengaruhi kematian maternatal antara lain adalah jarak kehamilan, status gizi, paritas dikarenakan kondisi fisiologis ibu yang belum matang untuk hamil lagi, karena hal ini akan memberikan predisposisi untuk terjadinyan perdarahan, plasenta previa, rupture uteri, solusio plasenta.
e. Umur Kehamilan
Pada kehamilan relatif terjadi anemia kerena darah ibu hamil mengalami hemodilusi. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Hoo Swie Tjiong, 1962 cit Manuaba). Makin tua umur kehamilan kadar Hb makin rendah karena pemgenceran darah menjadi makin nyata dengan lanjutannya umur kehamilan sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat pula. Hasil penelitian menemukan angka kematian disebabkan anemia kehamilan 3,8 % pada trimester 1, 13,6 % trimester II , dan 24,8 5 pada trimester III (Hoo Swie Tjiong, 1962 cit,. Wikjosastro, 1999).
Ibu hamil cenderung mengalami anemia pada tiga bulan terakhir kehamilan karena pada masa tersebut janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir, pada awal kehamilan, zat besi dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi mensturasi dan pertumbuhan janin masih lambat. Ketika umur kehamilan 4 bulan keatas, volum darah dalam tubuh akan meningkat 35%, ini ekuivalen dengan 450 mg zat besi untuk memproduksi sel-sel darah merah. Sel darah merah harus mengangkut oksigen lebih banyak untuk janin. Sedangkan saat melahirkan memerlukan tambahan zat besi 300-350 mg akibat kehilangan darah. Mulai dari kehamilan hingga persalinan, ibu hamil memerlukan zat besi sekitar 800 mg besi atatu 2-3 mg besi per hari atau dua kali lipat kebutuhan tidak hamil.
f. Kepatuhan Minum Fe
Kata “ kepatuhan “ Berasal dari kata dasar “ patuh “ yang berarti taat, suaka menurut dan disiplin. Pengertian kepatuhan Sacket dkk. (1985) dan Troslet (1988) adalah tingkat prilaku penderita dalam mengambil suatu tindakan untuk pengobatan, misalnya dalam melakukan diet dan menentukan kebiasaan hidup sehat dan ketetapan berobat. Dalam bidang pengobatan, seseorang dikatakan tidak patuh apabila orang tersebut melalaikan kewajiban untuk berobat (misalnya minum tablet besi), sedemikian rupa sehingga dapat mengakibatkan terhalangnya kesembuhan (Toman, 1979). Selanjutnya Toman juga menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ketidak patuhan yaitu faktor pasie (penderita), faktor pelayanan kesehatan, faktor panduan abat, faktor masyarakat.
Hampir sama dengan yang disebutkan oleh Toman, Sarafino (1990) menjelaskan faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan seseorang dalam berobat yaitu faktor petugas, faktor obat, dan faktor penderita. Karakteristik petugas yang mempengaruhi kepatuhan antara lain : jenis petugas, tingkat pengetahuan, lamanya kerja, frekuensi penyuluhan yang dilakukan. Faktor obat yang mepengaruhi kepatuhan yaitu pengobatan yang sulit dilaksanakan, tidak menunjukan kearah penyembuhan, waktu yang lama dan efek samping obat. Semua itu menjadi penyebab seseorang tidak patuh dalam berobat. Faktor penderita, yang dapat mempengaruhi kepatuhan antara lain, umur, jenis kelamin, pekerjaan, adanya anggota keluarga, saudara dan teman khusus.
Sarwono dkk, (1984) mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi patuh atau tidaknya seseorang dalam berobat menjadi tiga kelompok yaitu :
1) Faktor predisposisi yang mencakup persepsi, pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai, tradisi.
2) Faktor pendukung yaitu potensi sumber daya manusia.
3) Faktor pendorong, meliputi sikap pengambil keputusan.
Patuh atau tidaknya seseorang dalam melakukan suatu kegiatan dapat dilihat dari tingkat kepatuhannya. Tingkat kepatuhan juga dapat digunakan untuk mengetahui atau mengevaluasi pelaksaankemajuan, perkembangan kegiatan apakah sesui dengan standar atau aturan yang ditentukan (Depkes, 1997).
Becher (dalam Condrad, 1985) menjelaskan bahwa ada hubungan antara kepatuhan dengan kepercayaan terhadap beratnya penyakit, bahaya penyakit, manfaat pengobatan. Penyuluhan kesehatan melalui pendekatan individu, kelompok, masa, dapat meningkatkan kepatuhan berobat. Ini dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan Prokop dan Bradley (1981) yang menyatakan bahwa semakin sering penyuluhan dilakukan semakin meningkat kepatuhannya.
Kepatuhan ibu hamil dalam minum pil besi yang diterima selama kehamilannya merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas kehamilannya. Gillispi (1998) menyatakan kadar hemoglobin akan meningkat 1 gr/ dl jika dalam waktu 1-2 bulan ibu hamil mengkomsumsi pil besi 60 mg. (Sunesni, 2002) kepatuhan minum tablet besi dihitung berdasarkan persentase jumlah tablet besi yang seharusnya diminum oleh ibu hamil (Sachet, 1985 Cit Sarafino, 1990). Menurut Wiknjosatro (1997), kepatuhan minum tablet besi apabila ≥ 90 % dari tablet besi yang seharusnya diminum. Kepatuhan ibu hamil minum pil besi merupakan faktor penting dalam menjamin peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil
Kepatuhan minum tablet besi pada ibu hamil dapat dipantau dengan cara melihat terjadinya perubahan warna pada feces atau dengan test Afifi, menghitung jumlah tablet yang diminum serta sisanya, suvervisi langsung, melihat perkembangan kesehatan fisiknya (Depkes, 1999).
Ada 7 cara yang dapat dilakukan untuk mengukur dan mengetahui kepatuhan (Sacket dkk, 1985yaitu:
1) Keputusan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.
2) Pengamatan jadwal pengobatan.
3) Penilaian tujuan pengobatan.
4) Penghitungan jumlah tablet (pil) pada akhir pengobatan.
5) Pengukuran kadar obat dalam darah atau urine.
6) Wawancara langsung dengan penderita.
7) Pengisian formulir khusus.
Suplemen tablet besi telah terbukti dapat meningkatkan status besi relatif cepat terutama terhadap kelompok sasaran yang membutuhkan seperti wanita hamil. Pil besi dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada saluran pencernaan, keadaan inilah yang menyebabkan sulitnya memotivasi seseorang untuk patuh minum tablet besi setiap sehari sekali

B.
Sumbe pengetahuan:
§ Informasi
§ Edukasi Petugas
§ Poster
§ Radio
§ Tv
§ Koran
§ Majalah
§ Buku
§ PendidikanKerangka Teori Penelitian





Tingkat Pengetahuan
Ibu Hamil Tentang
Anemia
Umur Ibu
Tingkat Pend
Penghasilan
Paritas
Umur Kehamilan
Kepatuhan Minum Fe
Anemia
Status Anemia Dalam Kehamilan
Tidak
Anemia Anemia








Keterangan :
: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti
C. Kerangka Konsep Penelitian
Tingkat Pengetahuan
Ibu Hamil
Tentang anemia
Anemia
Status Anemia Dalam Kehamilan
Tidak
Anemia Anemia




Keterangan:

: yang diteliti
: tidak diteliti

D. Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian yang akan dilakukan ini hipotesisnya adalah “Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dengan status anemia dalam kehamilan di Puskesmas Kalibawang Wates. Kulonprogo Yogyakarta”.



BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian Cross sectional. Pengukuran variabel dilakukan suatu saat, subjek diobservasi pada saat yang sama dan pengukuran variabel dilakukan pada pemeriksaan atau pengkajian (Notoatmojo, 2002).

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian yang dilakukan adalah di Poliklinik KIA Puskesmas Kalibawang Wates dan akan dilaksanakan pada tanggal 13-30 Desember 2007.

C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilannya di poli KIA/KB Puskesmas Kalibawang, selama penelitian ini berlangsung. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 170 ibu hamil.
2. Sampel
37Cara penentuan sampel dalam penelitian ini digunalan teknik Non Probability sampling yaitu Accidental Sampling dimana teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan penelitian dapat di gunakan sebagai sample. (Sugiyono,2003) Apabila subyeknya besar (lebih dari 100) dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 1998). Penelitian ini menggunakan 36% dari total populasi Sampel dalam penelitian ini sebesar 62 responden (ibu hamil) dengan kriteria sebagai berikut :
a. Kriteria inklusi yaitu Ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kalibawang dengan umur kehamilan 13-28 minggu (trimester II) dan umur kehamilan 28-42 minggu (trimester III), dan
b. Kriteria ekslusi yaitu Ibu hamil dengan umur kehamilan pada trimester I dan ibu hamil yang tidak mau menjadi responden.
Karena jumlah sampel tidak dapat terpenuhi dalam 1 kali pengambilan sampel maka dilakukan 6 kali pengambilan sampel., selama 3 minggu berturut-turut, pada hari pelayanan anternatal yaitu pada setiap hari Selasa dan Rabu.Sampel dalam penelitian ini berjumlah

D. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep penelitian tertentu (Notoatmodjo, 2002: 70)
Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas, variabel terikat dan variabel pengganggu. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan anemia pada ibu hamil. Variabel terikat yaitu tingkat anemia pada ibu hamil. Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah umur, tingkat pendidikan, dan penghasilan.
Cara pengendalian variabel pengganggu yaitu dengan cara :
1. Umur
Untuk variabel pengganggu umur cara pengendaliannya yaitu diabaikan karena umur ibu saat hamil berbeda-beda, sehingga peneliti hanya meneliti ibu yang hamil saat trimester II dan III saja.
2. Pendidikan
Untuk variabel pengganggu pendidikan diabaikan karena pendidikan setiap orang berbeda-beda sehingga peneliti meneliti ibu hamil pada trimester II dan III tanpa memandang pendidikan yang ditempuh.
3. Penghasilan
Pada variabel pengganggu penghasilan juga diabaikan seperti variabel pengganggu lainnya karena pendapatan di masyarakat berbeda-beda khususnya pada ibu hamil dan anemia saat kehamilan juga menyerang semua golongan baik golongan menengah keatas atapun menengah kebawah. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka kurang pengetahuan dalam konsumsi makanan yang baik saat hamil.


Variabel bebas Variabel Terikat
Tingkat Pengetahuan
- Baik
- Cukup baik
- Kurang baik

Status Anemia Dalam Kehamilan
- Ya
- Tidak





Umur Ibu
Tingkat Pend
Penghasilan



Gambar 3.1 Hubungan Antar Variabel
Keterangan :
: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

E. Definisi Operasional
Dalam penelitian ini variabel-variabel yang akan di teliti di definisikan sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia
Pengetahuan ibu hamil adalah pemahaman ibu tentang anemia antara lain yaitu meliputi pengertian anemia, penyebab anemia, gejala anemia, pencegahan anemia, akibat anemia, jenis makanan dan lain-lain yang dibuat dalam kuesioner lalu hasil yang didapatkan dari sejumlah pertanyaan materi tentang pengetahuan anemia dijumlah dan dikategorikan menjadi skala ordinal. Menurut Nursalam (2003) Tingkat pengetahuan dikategorikan dalam 3 kategori yaitu:
a. Baik : 76%-100%
b. Cukup : 56%-75%
c. Kurang : 40%-55%
2. Status Anemia dalam kehamilan :
Status anemia dalam kehamilan adalah semua status tentang Hb dari ibu hamil yang periksa di Puskesmas Kalibawang yang digolongkan dalam tingkat anemia dan tidak anemia. Kadar Hb ini diperiksa dengan pemeriksaan sahli dan digolongkan menjadi 2 yaitu apabila :
a. Anemia : Hb < 11gr%
b. Tidak anemia : Hb ≥ 11gr%
Keadaan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit lebih rendah dari normal sebagai akibat dari difisiensi salah satu atau beberapa makanan yang essensial dengan mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Anemia sebagai keadaan kadar Hb lebih dari 2 SD (Standar Deviasi) dibawa rata-rata orang sehat dalam keadaan umur, jenis kelamin, dan tingkat kehamilan yang sama.

E. Instrumen penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil adalah kuesioner. Penulis menyusun daftar pertanyaan dengan memodifikasi sesuai dengan variabel pengetahuan tentang anemia, indikator yang akan diukur meliputi : pengertian anemi 5 item, penyebab anemia 5 item, gejala 4 item, pencegahan Anemia 6 item, akibat Anemia 4 item, jenis makanan 4 item, cara minum Fe 6 item, jumlah pertanyaan dalam kuisioner tentang Anemia seluruhnya adalah 30 pertanyaan, menggunakan pertanyaan tertutup dengan alternative jawaban 4, dengan jawaban benar diberi nilai 1 (satu) dan untuk jawaban salah diberi nilai 0 (nol). Data yang terkumpul lalu dijumlahkan dan dilakukan kategorisasi sesuai dengan skala ordinal yaitu kategori Baik 76%-100%, kategori cukup 56%-75%, kategori kurang 40%-55%.
Tabel 3.1. Kisi-kisi pertanyaan ibu tentang Anemia dalam kehamilan.
Variabel Penelitian
Indikator
Nomor Pertanyaan
Pengetahuan Tentang Anemia
Pengertian anemia
Penyebab anemia
Gejala anemia
Pencegahan anemia
Akibat anemia dalam kehamilan
Jenis makanan
Cara minum Fe
1, 2, 3, 4, 5
6, 7, 8,
9,10, 11
12,13,14, 15, 16
17,18, 19, 20

21, 22, 23, 24
25,26, 27, 28, 29

Sedangkan pengukuran tentang status anemia pada ibu hamil yaitu dengan melihat hasil pemeriksaan Hb yang dilakukan oleh petugas laboratorium Puskesmas Kalibawang yang dilakukan dengan cara metode sahli. Status anemia tersebut dibagi menjadi 2 yaitu anemia bila kadar Hb < 11gr% dan tidak anemia bila kadar Hb ≥ 11gr% .
Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu kuesioner dilakukan uji validitas dengan rumus Pearson Prodoct Moment dan dicari reliabilitas dengan menggunakan metode alpha cronsbach. Uji coba dilakukan pada ibu hamil di Desa Dekso wates pada 20 responden ibu hamil dengan karaktristik yang sama, yaitu 13-28 minggu (trimester II) dan umur kehamilan 28-42 minggu (trimester III).
Dari hasil validitas didapatkan bahwa dari 34 soal, terdapat 5 soal yang tidak valid dan 29 soal valid. Soal yang tidak valid yaitu pada nomor 6, 10, 14, 15, dan 32 sehingga dari 5 soal yang tidak valid ini tidak diikutkan karena dari 29 soal yang valid sudah dapat mewakili dari definisi operasional yang sudah ditentukan.
Dari hasil uji reliabilitas didapatkan hasil bahwa untuk reliabilitas variabel tingkat pengetahuan yang menggunakan rumus alpha crombach adalah 0,764.

F. Cara Pengumpulan Data
1. Data tingkat pengetahuan tentang anemia diperoleh melalui kuesioner terhadap responden yaitu semua populasi dan subyek penelitian yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Untuk menghindari persoalan teknis yang berkaitan dengan saat dilakukan pengumpulan data responden dan ketelitian dalam memberikan jawban, peneliti memberikan petunjuk dalam pengisian kuesioner serta mengadakan pengawasan dan penjelasan kembali bila responden mengalami kesulitan dalam hal-hal yang kurang jelas bagi responden yang bias baca tulis. Bagi responden yang tidak bias baca tulis, akan diwawancarai langsung dengaan panduan kuesioner oleh peneliti sendiri atau dengan bantuan enumerator. Untuk kelancaran dalam pengumpulan data, penulis dibantu oleh 2 orang anumerator dengan latar belakang pendidikan D III kebidanan dan telah dilatih mengenai materi kuesioner.
2. Untuk mengetahui kadar Hb ibu hamil dilakukan pemeriksaan Hb (metode Sahil ) pada semua ibu hamil yang datang untuk memeriksakan kehamilannya. Dalam pemeriksaan Hb ini peneliti berkerja sama dengan petugas labortorium Puskesmas Kalibawang.

G. Pengolahan dan Analisa Data.
1. Pengolahan data
Data yang diambil yaitu data yang terkumpul dilakukan pengolahan dengan tahap-tahap :
a. Editing. Meneliti setiap kusioner tentang kelengkapannya dengan memeriksa jawaban dan perubahan seperlunya bila dibutuhkan.
b. Coding. Mengklasifikasi dan memberikan kode skor pada jawaban responden.
c. Tabulasi. Mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian, membuat tabel distribusi frekuensi.
d. Entry. Memasukkan data kedalam program SPSS 11.
2. Analisa data
Analisa hasil penelitian ini dilakukan secara bertahap :
a. Tahap I : dilakukan analisa univariat variabel yang ada pada penelitian ini untuk menghitung distribusi dan frekuensinya.
b. Tahap II : dilakukan analisa bivariat variabel bebas dan terikat. Analisa data yang digunakan adalah tehnik bivariat dengan uji hipotesis Chi-Square dengan rumus Chi kuadrat :
(Sugiyono, 2006)
Dimana : = Chi kuadrat
fo = frekuensi observasi
N = frekuensi harapan
H. Pelaksanaan Penelitian.
1. Tahap persiapan.
Meliputi studi pendahuluan, pembuatan proposal, menyelsaikan adminitrasi dan perijinan penelitian dari Ketua STIKES SURYA GLOBAL ke Walikota Kulonprogo yogyakarta kemudian ke Kepala Dinas Kesehatan kota wates Yogyakarta dilanjut ke Kepala Puskesmas Kalibawang, lalu melakukan uji kuesioner.
2. Tahap pelaksanaan.
Meliputi pengambilan data di Puskesmas Kalibawang, editing data (memeriksa data-data yang terkumpul mengenai bacaan maupun kelengkapan), pengolahan data melalui computer dengan menggunakan prigram SPSS dengan uji statistic Korelasi Tata Jenjang Spearman.
3. Tahap analisis data
Meliputi analisis deskriptif untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tetang anemia dan variabel kontrol secara kuantitatif.
4. Tahap penulisan laporan.
Pengambilan data dengan memberikan kuesioner pada ibu hamil di tempat penelitian yaitu Puskesmas Kalibawang, mulai tanggal 13 sampai 30 Desember 2007 pada setiap hari pelayanan anternatal di poli KIA. Kuesioner yang telah disusun dibagikan kepada responden dengan memberikan penjelasan terlebih dahulu maksud dan tujuan penelitian, setelah itu memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas.

Tidak ada komentar: